" target=" blank">

 
Showing posts with label Cerita Rakyat. Show all posts
Showing posts with label Cerita Rakyat. Show all posts

Sunday, December 25, 2011

Gadis 26 Desember

0 comments
MERATAPMU | Setelah memarkirkan motor, perlahan Gade membuka pintu pagar dan berjalan masuk. Suasana sunyi-sepi langsung terasa. Sejenak ia ragu, lalu melangkah pelan mendekati teras. Tiupan angin semilir menyambut kedatangannya, membelai lembut pada wajah seakan mengucapkan salam rindunya yang telah lama dipendam.
Rumah ini adalah tempat Gade tinggal dulu saat masih bekerja sebagai kuli bangunan. Kini terlihat tua dan tidak terurus sama sekali. Pemiliknya mati sejak enam tahun lalu. Semak daun dan rumput ilalang kini membelukar, tumbuh lebat layaknya  hutan belantara.
Gade menghentikan langkah. Suasana hatinya berubah sendu saat  melihat pohon mangga tua yang tumbuh gersang tanpa daun. Pohon ini adalah awal cerita yang telah menyimpan banyak rahasia, tentang seorang gadis telanjang yang dia temukan sekarat di bawahnya. Pada dahannya juga masih menyimpan sebuah ukir yang Gade buat dulu tentang lekuk tubuh Gadis itu. “Gadis 26 Desember,” begitu Gade menulis kata di bawah ukiran itu.
Gadis adalah perempuan yang  pernah mengapung di halaman ini,  saat air laut meluap dan ombak-ombak raksasa memporak-porandakan kota. Gadis meraung sejadinya mengharap tolong pada siapa saja  yang  mungkin mendengar, sampai Gade kemudian  meraih tubuh bugilnya dan mereka selamat di atas pohon mangga ini.
Setelah enam tahun berlalu, sore  itu  Gade berkunjung kembali kerumah  tersebut. Dia ingin menuntaskan hasrat hatinya yang telah lama merindu. Terlebih setelah secara tidak sengaja pagi tadi berjumpa lagi dengan si Gadis. Mereka bertemu pada sebuah Rumah Sakit tempat sejak sepekan ini Gade bekerja. Gade memang tidak lagi menjadi kuli bangunan. Tenaganya sudah tak sekuat dulu. Beberapa bulan yang lalu Gade mengalami kecelakaan hebat, terjatuh dari lantai dua sebuah bangunan saat sedang bekerja memasang atap. Terpaksa kini Gade menjadi cleaning service pada rumah sakit tersebut. Dan Gadis yang ternyata sudah menjadi seorang dokter muda,  cantik lagi,  kebetulan juga bekerja di sana.
Saat angin kencang tiba-tiba berhembus, Gade terbangun dari hayalnya yang panjang. Bayang-bayang  Gadis masih saja menjelma di pikirannya .”Bukankah aku tak mengharap apa-apa darimu?” ujar Gade lirih sambil memperhatikan lekuk tubuh Gadis di pohon mangga itu.
“Kenapa kau tega bersikap begitu. Apa Aku terlalu hina di matamu dan teman-temanmu itu?” Gade seperti berbicara pada angin, atau mungkin pada pohon mangga itu. Batinnya tersayat mengingat sikap Gadis yang kelihatannya malu mengakui Gade sebagai orang yang pernah dia kenal. 
 “Siapa?” “Tidak kenal  tuh, cleaning service yang sok dekat, padahal kenal pun tidak.” Itulah percakapan terakhir Gadis dan temannya sesama berbaju dinas putih yang sempat Gade dengar, sebelum kemudian Gade pergi meninggalkan Rumah Sakit itu. Gade kecewa.
Sudah setengah hari Gade berada di rumah ini. Ia seperti orang sedih yang kebingungan, berjalan  melihat-lihat  ke setiap sudut halaman rumah peninggalan pamannya ini, melahap setiap kenangan yang dulu pernah terukir di sini. Kemudian dia  kembali merebahkan tubuhnya di bawah pohon mangga. Ia menikmati belai sejuk angin sore yang terasa kian dingin. Di sana, mendung hitam membentang tebal. Gade menatap jauh pada gumpalan awan yang membentang luas itu. Hujan sebentar lagi akan turun deras. Mungkin akan lebih deras dari air mata Gade yang dari tadi sudah bercucuran. Gade benar-benar terhanyut dalam rasa, seperti melihat kembali masa silam penuh luka itu. Bibi dan pamannya mati di sini, juga kelima anak mereka. Dan juga kisah miris yang ia dapat bersama Gadis. Karya  Ibnu Hajar
Read more...

Saturday, December 24, 2011

Laki Dan Perempuan memiliki Peran yang Sama

0 comments
MERATAPMU | LAKI-LAKI dan perempuan sama-sama punya peran dalam menciptakan peradaban dan juga kelangsungan hidup manusia. Seringkali perdebatan muncul. Tentang siapa yang lebih berperan, siapa yang lebih berhak dan siapa yang lebih kuat.

Dalam beberapa budaya dan lingkungan, lelaki dipandang lebih kuat dan perempuan cenderung dianggap sebagai manusia kelas dua. Bahkan pemikir Yunani, Aristosteles, menyebutkan, perempuan adalah pria yang tak lengkap. Ia lemah secara psikologis dan emosional serta tidak independen. Menurutnya perempuan lebih perkasa ketimbang laki-laki. Perihal ini tergambar dalam bukunya yang sempat dicekal oleh pemerintah Rusia pada 1889.

Leo Tolstoy (1828-1910), seorang sastrawan dunia kelahiran Rusia, juga memberikan pandangan terbalik. Dalam novelnya, The Kreutzer Sonata, ia menampilkan tokoh perempuan, Posdnicheff. Leo menulis, di balik kelemah-lembutan, kemerduan suara dan lenggak-lenggok tubuhnya, wanita justru menyimpan kekuatan. Perempuan juga menguasai lelaki dengan pakaian dan hal-hal yang menggugah hasrat lelaki.

Sekilas, perempuan terlihat sebagai objek yang dinikmati lelaki. Namun tanpa disadari lelaki telah terjebak pada kondisi itu. Maka kemudian perempuanlah yang sebenarnya berkuasa atas lelaki. Dengan kekuatan itu pula istri Podsnicheff berhasil merebut hati seorang pelatih biola hingga kemudian terlibat dalam perselingkuhan. Di akhir cerita, pada novela tersebut Posdnicheff mengakhiri nyawa istrinya dengan ujung belati.

Dalam hikayat lain juga menceritakan tentang kehebatan seorang perempuan yang dengan pesonanya mampu menaklukkan seorang laki-laki bahkan raja sekalipun. Contohnya seperti Cleopatra yang sering dikisahkan dalam drama-drama, novel dan film. Ratu Mesir ini berhasil menggaet orang terkuat pada masanya yakni Julius Caesar dan Mark Antony. Konon Antony adalah seorang jenderal besar yang karir dan hidupnya harus hancur akibat asmara dan sensualitas Cleopatra.

Lain Mesir lain pula Aceh. Aceh juga punya sejarah tersendiri tentang perempuan. Dulu kekuatan dan keperkasaan perempuan terejawantah dalam bentuk yang berbeda. Ada dalam kisah-kisah heroik nyata yang menakjubkan. Di antaranya adalah Laksamana Keumalahayati. Pada tahun 1590 ia ditunjuk oleh Sultan Alaudin Riyatsyah al Mukammil (1589-1604) sebagai armada Aceh untuk berperang dan mengusir tentara kolonial Belanda.

Cut Nyak Dhien, ia mendampingi suaminya untuk berperang melawan Belanda bahkan ketika Teungku Umar sudah wafat di Meulaboh (1899), ia terus berjuang dalam perang. Hal yang sama juga pernah dilakukan oleh Cut Meutia (1870-1910). Ia ikut memimpin perang melawan kolonial Belanda.

Cerita di atas jelas menggambarkan bahwa perempuan bukanlah semata-mata lembar manifes yang cabik. Ia memiliki kekuatan dan pengaruh baik dengan pesona maupun keteguhannya. Dalam Islam perempuan juga digambarkan sebagai sosok yang memiliki pengaruh besar. Ia ikut menjadi tolak ukur baik tidaknya sebuah negara. Seperti dikatakan oleh Rasulullah, “Sebuah negara itu tergantung pada perempuan. Jika perempuan itu baik maka baiklah suatu negara.”

Namun di zaman yang semakin canggih dan tantangan yang semakin ketat, segelintir orang memanfaatkan energi magis perempuan yang tidak terlihat tersebut. Aktor-aktor itu mengerti akan adanya tiga titik yang membuat manusia sering tidak berdaya: harta, tahta, dan wanita. Pada ruang tertentu lalu perempuan dijadikan komoditi dan alat untuk mendulang uang dari kantong-kantong manusia yang lain.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa produk yang dijual atau dipromosikan oleh perempuan cantik akan lebih cepat laku ketimbang dipromosikan oleh laki-laki. Iklan-iklan di TV akan kalah menarik jika tanpa kehadiran perempuan. Di saat peluncuran produk mobil terbaru misalnya, akan ada satu atau dua perempuan cantik yang berdiri setengah erotis di salah satu sudut mobil. Mereka melayani setiap setiap sesi pemotretan sambil menyenyumi setiap pengunjung juga pelanggan. Mobil yang bagus dan perempuan yang cantik adalah dua “magnet” yang cukup menggoda siapa saja.

Sementara di beberapa desa tertentu ada pemandangan berbeda. Ada perempuan yang di pagi buta sudah di sawah seusai mengurus dapur dan lainnya sementara ada sang suami yang sibuk mengoceh di warung kopi. Fenomena ini mungkin juga sedikit tergambar dalam sajak Hartojo Andangdjaja yang tentunya beranjak dari keadaan:

Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta, siapakah mereka. Mereka ialah ibu-ibu berhati baja, perempuan-perempuan perkasa. Akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota. Mereka cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa.

Kondisi seperti inilah yang terkadang menyebabkan lahirnya aktivis perempuan untuk membela. Hal ini kemudian merambah pada emansipasi yang menuntut persamaan hak antara lelaki dan perempuan; hak berpolitik, hak bersuara, hak ngopi dan sebagainya karena mereka merasa berada pada pihak yang teraniaya.

Di banyak warung kopi di kota semisal Banda Aceh juga ada lakon lain yang kontras. Mungkin bukan hal yang asing lagi ketika muncul segerombolan wanita-wanita cantik dengan pakaian seragam menawarkan rokok dari meja ke meja. Tidak jarang mereka digoda atau dipermainkan para lelaki. Dengan sabar dan teguh kemudian mereka pergi lagi ke meja lain. Dengan pesona dan model sabar yang demikianlah beberapa perempuan mengejawantahkan kekuatan dan keperkasaan mereka.

Percaya tidak percaya, perempuan adalah makhluk yang kuat dan berpengaruh. Ia tidak boleh tidak dihargai dan diremehkan. Karena perempuan juga ibu yang berjasa melahirkan banyak laki-laki hebat di dunia. Pun demikian, perempuan akan lebih hebat jika seandainya tegas dan tidak membiarkan orang-orang tertentu menyalahgunakan kecantikan dan keberadaannya sebagai pelaris mobil, rokok dan sebagainya. Karena model seperti itu adalah bagian dari eksploitasi perempuan yang jarang dikritisi bahkan oleh aktivis perempuan sendiri.
Read more...

Wednesday, December 21, 2011

Lukisan Oei Hong Djien Berubah Bentuk

0 comments
MERATAPMU | DUA pria sepuh itu asyik mengamati sebuah lukisan tua tanpa tahun. Di sudut lain, beberapa orang sibuk berfoto di depan lukisan seorang gadis Bali setengah telanjang. Puluhan orang berkeliling mengamati tiap lukisan yang dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta.

Sumber pesona itu adalah lukisan-lukisan milik Dr Oei Hong Djien atau yang juga akrab disapa OHD. Pria berusia 72 tahun ini memang memindahkan 69 lukisan dan beberapa patung koleksinya untuk dipamerkan pada khalayak umum hingga Kamis lusa.

Inilah pertama kali dia memamerkan koleksinya di luar museum miliknya di Jalan Pangeran Diponegoro 74, Magelang, Jawa Tengah.

Jelas ini pameran yang istimewa. Sebab, lukisan yang ada di pameran ini merupakan lukisan mahal karya maestro seni negeri ini. Banyak yang mengomentari keberaniannya itu.

Namun, OHD santai saja. “Kalau tidak nekat, ya, kita tidak ke mana-mana. Soal risiko, ya, semua ada risiko. Naik mobil juga berisiko,” ujar Dr Oei di sela acara pembukaan pameran, Kamis dua pekan silam.

Pameran ini ia tujukan untuk menularkan pengetahuan tentang karya seni yang baik kepada masyarakat. Selain itu, sebenarnya dia ingin agar kolektor lainnya tergerak melakukan hal yang sama: memamerkan koleksinya. “Kalau enggak dipancing, bagaimana mungkin orang melihat perkembangan seni rupa Indonesia,” ujarnya.

Di jagat seni lukis di Tanah Air, OHD merupakan sosok penting. Meski seorang dokter, ia memiliki koleksi lukisan dari seniman besar Indonesia. Koleksinya mencapai lebih dari 2.000 karya seni lukis, patung indoor-outdoor, karya instalasi, dan keramik.

Koleksi itu tidak hanya dari pelukis kondang, seperti Raden Saleh, Affandi, Basuki Abdullah, dan Sudjojono, tapi juga dari mereka yang tergolong seniman kontemporer, seperti Tisna Sanjaya, Eko Nugroho, Agus Suwage, dan Ugo Untoro.

Semua koleksinya, yang mulai dikumpulkannya sejak 25 tahun lalu, itu ia simpan di museum pribadinya di Magelang, yang mulai dibuka pada 1997. Dia juga memiliki koleksi lain yang dititipkan di Museum Seni Singapura. “Hanya beberapa saja, tak sebanyak pameran ini.”

Ketertarikannya pada dunia seni dimulai saat dia masih anak-anak melalui orang tuanya. Rasa kesukaannya pada lukisan perlahan-lahan mulai terlampiaskan saat dia kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

Saat itu, dia mulai senang bertandang dari satu galeri ke galeri lain atau ke pameran-pameran lukisan. Pria berkacamata ini makin terpuaskan saat kuliah ilmu kedokteran di Catholic University di Nijmengen, Belanda.

Di sana, wawasannya tentang seni kian luas setelah mengikuti berbagai seminar tentang karya seni. Dari sanalah kemudian dia mengenal dan mengetahui seni lukis yang berkualitas.

Lokasi rumahnya yang di Magelang memudahkan aksesnya ke pusat seni di Yogyakarta dan Borobudur. Dia pun mengenal maestro Widayat secara dekat. Begitu juga Affandi dan pelukis lainnya.

Keakraban dengan para pelukis membuatnya mudah diterima di lingkungan ini. Pergaulannya dengan para pelukis mampu membuatnya mengetahui lukisan yang tepat dan berkualitas.

Suka-duka berburu banyak dirasakan. Banyak godaan, tantangan, menyerempet bahaya. Kadang, begitu ada lukisan atau karya seni yang ditawarkan, biasanya Dr Oei akan langsung meninggalkan pekerjaannya. “Memang banyak menyita waktu, tapi apa boleh buat,” ujarnya. Tetapi kepuasan akan terbayar setelah mendapatkan karya yang diburu.

Satu perburuan yang takkan dilupakannya adalah perjalanannya ke Rio de Janeiro, Brasil, pada 1994. “Perjalanan terjauh dan sangat menakjubkan.” Dalam perburuan itu dia memboyong pulang 30 lukisan, yang menjadi koleksi penggila seni di sana.

Lima lukisan di antaranya adalah karya S. Sudjojono, Rose Doing the Laundry; Rusli, Balinese Dancer; But Muchtar, Dancer; Mochtar Apin, Reclining Nude at the Beach; dan Suhadi, Funeral Procession in Javanese Village.

Tak semua lukisan itu ditukar dengan harga mahal. Ada pula koleksi yang diberi dengan harga murah atau bahkan diberikan langsung oleh si pelukis. Dan ada karya seni yang datang dari seseorang.

Kini, Dr Oei merasa telah melampaui waktu perburuan. Bahkan telah datang waktu menjadi buron. Banyak orang mencarinya, menawarkan berbagai karya seni.

Ternyata tak sulit bagi Oei mendapatkan koleksi yang dianggapnya bagus. Tipnya, “Beli yang Anda suka dan yang bikin greng ngrenyem seperti disengat listrik,” ujarnya. Rupanya, tip itu didapatkan dari maestro Widayat.

“Sengatan” tersebut ternyata datang malam itu. Di tengah keramaian, seorang mendekatinya sambil menunjuk foto dalam katalog, berupa lukisan dua orang lelaki karya Kusnadi yang tanpa judul. “Ini nama Isnaini, ini saya,” ujar Mulyadi, 74 tahun.

OHD pun menyambut gembira. “Wah terima kasih. Nah, kan jadi tambah lagi. Lukisan ini saya dapat langsung dari Pak Kusnadi,” ujarnya, semringah. DIAN YULIASTUTI
DUA pria sepuh itu asyik mengamati sebuah lukisan tua tanpa tahun. Di sudut lain, beberapa orang sibuk berfoto di depan lukisan seorang gadis Bali setengah telanjang. Puluhan orang berkeliling mengamati tiap lukisan yang dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta.

Sumber pesona itu adalah lukisan-lukisan milik Dr Oei Hong Djien atau yang juga akrab disapa OHD. Pria berusia 72 tahun ini memang memindahkan 69 lukisan dan beberapa patung koleksinya untuk dipamerkan pada khalayak umum hingga Kamis lusa.

Inilah pertama kali dia memamerkan koleksinya di luar museum miliknya di Jalan Pangeran Diponegoro 74, Magelang, Jawa Tengah.

Jelas ini pameran yang istimewa. Sebab, lukisan yang ada di pameran ini merupakan lukisan mahal karya maestro seni negeri ini. Banyak yang mengomentari keberaniannya itu.

Namun, OHD santai saja. “Kalau tidak nekat, ya, kita tidak ke mana-mana. Soal risiko, ya, semua ada risiko. Naik mobil juga berisiko,” ujar Dr Oei di sela acara pembukaan pameran, Kamis dua pekan silam.

Pameran ini ia tujukan untuk menularkan pengetahuan tentang karya seni yang baik kepada masyarakat. Selain itu, sebenarnya dia ingin agar kolektor lainnya tergerak melakukan hal yang sama: memamerkan koleksinya. “Kalau enggak dipancing, bagaimana mungkin orang melihat perkembangan seni rupa Indonesia,” ujarnya.

Di jagat seni lukis di Tanah Air, OHD merupakan sosok penting. Meski seorang dokter, ia memiliki koleksi lukisan dari seniman besar Indonesia. Koleksinya mencapai lebih dari 2.000 karya seni lukis, patung indoor-outdoor, karya instalasi, dan keramik.

Koleksi itu tidak hanya dari pelukis kondang, seperti Raden Saleh, Affandi, Basuki Abdullah, dan Sudjojono, tapi juga dari mereka yang tergolong seniman kontemporer, seperti Tisna Sanjaya, Eko Nugroho, Agus Suwage, dan Ugo Untoro.

Semua koleksinya, yang mulai dikumpulkannya sejak 25 tahun lalu, itu ia simpan di museum pribadinya di Magelang, yang mulai dibuka pada 1997. Dia juga memiliki koleksi lain yang dititipkan di Museum Seni Singapura. “Hanya beberapa saja, tak sebanyak pameran ini.”

Ketertarikannya pada dunia seni dimulai saat dia masih anak-anak melalui orang tuanya. Rasa kesukaannya pada lukisan perlahan-lahan mulai terlampiaskan saat dia kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

Saat itu, dia mulai senang bertandang dari satu galeri ke galeri lain atau ke pameran-pameran lukisan. Pria berkacamata ini makin terpuaskan saat kuliah ilmu kedokteran di Catholic University di Nijmengen, Belanda.

Di sana, wawasannya tentang seni kian luas setelah mengikuti berbagai seminar tentang karya seni. Dari sanalah kemudian dia mengenal dan mengetahui seni lukis yang berkualitas.

Lokasi rumahnya yang di Magelang memudahkan aksesnya ke pusat seni di Yogyakarta dan Borobudur. Dia pun mengenal maestro Widayat secara dekat. Begitu juga Affandi dan pelukis lainnya.

Keakraban dengan para pelukis membuatnya mudah diterima di lingkungan ini. Pergaulannya dengan para pelukis mampu membuatnya mengetahui lukisan yang tepat dan berkualitas.

Suka-duka berburu banyak dirasakan. Banyak godaan, tantangan, menyerempet bahaya. Kadang, begitu ada lukisan atau karya seni yang ditawarkan, biasanya Dr Oei akan langsung meninggalkan pekerjaannya. “Memang banyak menyita waktu, tapi apa boleh buat,” ujarnya. Tetapi kepuasan akan terbayar setelah mendapatkan karya yang diburu.

Satu perburuan yang takkan dilupakannya adalah perjalanannya ke Rio de Janeiro, Brasil, pada 1994. “Perjalanan terjauh dan sangat menakjubkan.” Dalam perburuan itu dia memboyong pulang 30 lukisan, yang menjadi koleksi penggila seni di sana.

Lima lukisan di antaranya adalah karya S. Sudjojono, Rose Doing the Laundry; Rusli, Balinese Dancer; But Muchtar, Dancer; Mochtar Apin, Reclining Nude at the Beach; dan Suhadi, Funeral Procession in Javanese Village.

Tak semua lukisan itu ditukar dengan harga mahal. Ada pula koleksi yang diberi dengan harga murah atau bahkan diberikan langsung oleh si pelukis. Dan ada karya seni yang datang dari seseorang.

Kini, Dr Oei merasa telah melampaui waktu perburuan. Bahkan telah datang waktu menjadi buron. Banyak orang mencarinya, menawarkan berbagai karya seni.

Ternyata tak sulit bagi Oei mendapatkan koleksi yang dianggapnya bagus. Tipnya, “Beli yang Anda suka dan yang bikin greng ngrenyem seperti disengat listrik,” ujarnya. Rupanya, tip itu didapatkan dari maestro Widayat.

“Sengatan” tersebut ternyata datang malam itu. Di tengah keramaian, seorang mendekatinya sambil menunjuk foto dalam katalog, berupa lukisan dua orang lelaki karya Kusnadi yang tanpa judul. “Ini nama Isnaini, ini saya,” ujar Mulyadi, 74 tahun.

OHD pun menyambut gembira. “Wah terima kasih. Nah, kan jadi tambah lagi. Lukisan ini saya dapat langsung dari Pak Kusnadi,” ujarnya, semringah. [ Dian Yuliastuti ]
Read more...

Wisata Sejarah Aceh yang begitu Indah

0 comments
MERATAPMU | SATU lagi destinasi wisata warisan sejarah diresmikan pemerintah (Jumat, 09/12/2011). Destinasi tersebut diberi nama Kawasan Wisata Sejarah Melayu Nusantara. Berlokasi di Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, Aceh dan berjarak sekitar 180 km arah timur Ibukota Provinsi Aceh. Peresmian kawasan tersebut berkaitan dengan sejarah antara Indonesia dan Malaysia. Sosok itu bernama Tun Sri Lanang. Menurut sebuah kisah, sebelum memimpin Negeri Samalanga, Bireuen tahun 1615-1659, Tun Sri merupakan bendahara atau Perdana Menteri Kerajaan Johor. Namun, setelah Aceh menaklukkan Batu Sawar, Ibu kota Kerajaan Johor tahun 1613, Sultan Iskandar Muda memboyong Tun Sri ke daerah itu, kemudian diangkat sebagai penguasa pertama Samalanga (Kompas, 09/12/2011). 

Cuplikan cerita di atas hanya sekelumit peristiwa sejarah yang pernah terjadi di Aceh. Namun, sebelum ini terdapat berbagai situs sejarah dan budaya sebagai aset wisata yang tersebar di beberapa kabupaten dan kota di Provinsi Aceh. Misalnya Kota Banda Aceh, mempunyai monumen tewasnya perwira tinggi Belanda Mayjen Kohler di halaman Masjid Baiturrahman yang sarat dengan nilai sejarah, Makam Sultan Iskandar Muda, Makam Syiah Kuala, Museum Aceh, Lonceng Cakradonya, Gunongan, Kerkhoff, Gampong Bitai, Gampong Kedah, Gampong Pande, Gampong Peulanggahan hingga Taman Putroe Phang. Sabang pula memiliki peninggalan sejarah seperti bangkai kapal Jerman dan benteng Jepang. Sementara itu, Aceh Besar memiliki Makam Laksamana Malahayati, benteng Indrapatra dan benteng Inong Balee. Wilayah pantai barat dan selatan juga menyimpan situs sejarah sebagai simbol perjuangan rakyat melawan penjajah Belanda. Sebut saja, Makam Teuku Umar Johan Pahlawan sebagai simbol perjuangan rakyat Aceh. Tidak ketinggalan, di wilayah timur juga terdapat Makam Malikussaleh yang memerintah pada masa kejayaan Kerajaan Islam Samudera Pasai. Begitu pula dengan wilayah tengah, memiliki sejarah tersendiri seperti Monumen Radio Rimba Raya yang berperan besar mendukung proses kemerdekaan Indonesia. 

Tentu saja, potensi wisata sejarah dan budaya tersebut memiliki prospek untuk menarik kunjungan wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara. Situs peninggalan sejarah menjadi penting apalagi situs tersebut berkaitan dengan peristiwa-peristiwa masa lampau yang turut melibatkan berbagai negara seperti Belanda, Jepang, Turki, Cina, Inggris, Turki dan Malaysia. Oleh karena itu, potensi itu harus dimanfaatkan sebagai satu produk wisata sejarah sehingga menarik perhatian wisatawan berkunjung. Pertanyaanya adalah bagaimana mengemas dan “menjual” produk tersebut menjadi sebuah paket wisata yang bisa menarik wisatawan?

Prospek Wisata Napak Tilas 
Sebagai provinsi yang memiliki sejarah panjang dan diwarnai dengan kentalnya nuansa adat budaya serta agama sudah pada tempatnya jika pemerintah kembali memberi fokus pada pengembangan wisata jenis ini untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Pemerintah harus berani tampil tidak hanya menjual keindahan panorama dan keanekaragaman sumberdaya alam, melainkan juga harus fokus kepada wisata sejarah dan budaya sebagai kekhasan provinsi paling barat Indonesia ini. Komitmen itu harus diaplikasikan segenap pemangku kepentingan dengan memberi perhatian terhadap upaya-upaya menjaga dan melestarikan situs sejarah yang tidak ternilai harganya. Untuk mewujudkan maksud tersebut, pemerintah misalnya berkewajiban menata dan menjaga situs secara berkala. Pada sisi lain, pihak pengusaha seperti pemilik akomodasi, pengusaha makanan dan minuman, pemilik transportasi, biro perjalanan wisata serta masyarakat harus memberikan kemudahan dan kenyamanan serta mutu pelayanan kepada tamu yang akan berkunjung ke berbagai destinasi wisata sejarah. 

Penulis sepakat memberi nama produk wisata tersebut dengan nama wisata napak tilas. Betapa tidak, jenis wisata ini lebih diarahkan kepada upaya menghargai lintasan peristiwa sejarah peradaban manusia sebagai titik tolak melihat kemajuan sebuah bangsa. Selain itu, wisata ini ditujukan kepada segmen pasar tertentu seperti kelompok peneliti, kalangan terdidik seta kelompok-kelompok masyarakat yang peduli dengan pelestarian sejarah budaya umat manusia. 

Perkuat Kerjasama Antardaerah
Ada tiga hal yang harus jadi perhatian pemangku kepentingan untuk memastikan dan menjamin kepuasan bagi wisatawan. Pertama, sewaktu wisatawan masih berada di negara asal. Kedua, ketika wisatawan berada di destinasi yang dituju. Ketiga, ketika wisatawan meninggalkan destinasi dan kembali ke negara asal. Sewaktu turis masih berada di negara asal atau sebelum memutuskan berkunjung ke suatu destinasi mereka memerlukan informasi sebanyak-banyaknya. Disini, pihak pemerintah dan swasta seperti usaha biro perjalanan bekerja sama dengan biro perjalanan wisata luar negeri membuat paket-paket wisata dan mempromosikan terutama melalui jaringan internet dan jejaring sosial lainnya. Langkah kedua ketika wisatawan mulai menginjakkan kaki di daerah yang dikunjunginya semenjak mendarat, mengurus visa on arrival bagi wisawatan mancanegara, sampai mereka tiba di penginapan. Hari-hari berikutnya adalah membawa tamu ke situs yang telah ditentukan sesuai dengan paket yang telah direncanakan sebelumnya. Langkah terakhir adalah memastikan wisatawan memperoleh kepuasan dan kembali dengan membawa sejuta kenangan sebagai kesan yang diperoleh setelah kembali ke negara asal mereka.

Mengingat lokasi situs berada di beberapa kabupaten dan kota, sebaiknya pemerintah daerah dan pihak terkait melakukan koordinasi seperti pada program BASAJAN (Banda Aceh, Sabang dan Jantho). Model kerjasama seperti ini dapat menyinergikan program-program wisata unggulan yang layak dijual. Wisata napak tilas ini bisa dimulai dari dalam negeri maupun luar negeri dimana pintu masuknya adalah Bandara Sultan Iskandar Muda. Kemudian dari Kota Banda Aceh wisatawan bergerak menuju wilayah-wilayah dimana situs sejarah dan budaya terdapat dan pola perjalanannya dapat diformulasikan ke dalam beberapa gugusan. Misalnya gugusan pertama meliputi wilayah Banda Aceh, Aceh Besar dan Sabang. Gugusan kedua meliputi wilayah Pidie, Bireun, Lhokseumawe, dan Dataran Tinggi Gayo. Manakala, gugusan ketiga meliputi wilayah barat dan selatan hingga ke Singkil. 

Tahun 2011 tidak lama lagi meninggalkan kita. Pencanangan Aceh Visit 2013 masih tersisa satu tahun lagi, namun bukan waktu yang lama. Kini waktunya bagi kabupaten dan kota yang memiliki situs wisata sejarah untuk mempersiapkan dan membenahi diri era kedatangan tamu. Semoga kejayaan Aceh masa lampau tidak hanya diketahui oleh rakyat Aceh tetapi penduduk luar. Sumber : Tribunnews

Read more...

Monday, December 19, 2011

Makam Pengarang buku Tan Malaka Dibongkar

0 comments
MERATAPMU | Yogyakarta - Pengarang buku ‘Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia’, Harry A. Poeze, mengatakan hasil tes DNA terhadap sisa - sisa kerangka manusia yang diduga kuat adalah bekas tubuh Tan Malaka akan keluar pada Januari 2012.

Menurut keponakan Tan Malaka, Zulfikar Kamarudin, hasil tes DNA kedua dari laboratorium di Korea rencananya diumumkan ke publik pada bulan itu juga.

Setahun lebih saya menunggu-nunggu hasilnya. Saya di Indonesia hingga 20 hari mendatang juga untuk melihat pengumumannya ke publik,” kata Poeze seusai menjadi pembicara dalam bedah buku terbarunya ‘Madiun 1948, PKI Bergerak’ di sekretariat Institute Research for Empowerment (IRE) Yogyakarta pada Senin 19 Desember 2011.

Hasil tes DNA itu, kata Harry, akan memastikan teka-teki lokasi eksekusi Tan Malaka dan menjadi bukti kuat tesisnya yang menduga pengarang buku Madilog itu dikuburkan di pemakaman sekitar Desa Selopanggung, Kediri.

Sebelumnya, pada akhir 2009 lampau, hasil uji tes DNA yang dilakukan oleh tim dokter dari Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia hanya menemukan 9 kecocokan dari 14 unsur yang semestinya positif sesuai dengan DNA keluarga Tan.

»Memang sangat susah, isi makamnya hanya sisa-sisa kerangka, mirip debu. Hanya terlihat ada debu membentuk posisi manusia terlentang dengan tangan terikat ke belakang,” terang Poeze.

Harry mengaku memiliki kesan khusus terhadap sejarah revolusi di Indonesia. Di sejarah revolusi Indonesia, dia menemukan kiprah generasi paling idealis dari bangsa Indonesia modern awal saat itu.

Semua tokoh pendiri bangsa ini adalah orang idealis. Tan, Soekarno, Hatta, Muso, dan lainnya selalu tegas memilih prinsip politik, kalah atau menang tak masalah,” kata Poeze.

Dia mencontohkan dalam buku terbarunya, ada cerita ketegaran seorang Amir Syarifudin saat dieksekusi oleh pasukan Siliwangi bersama 10 petinggi Partai Komunis Indonesia pada 1948. »Sebelum ditembak dia menyeru ‘hidup kaum buruh, aku mati untukmu’,” ungkap Poeze.

Menurutnya, semangat idealis tokoh-tokoh revolusi kemerdekaan ini pantas menjadi teladan bagi generasi bangsa Indonesia belakangan. Karena itu, ia beranggapan, sebaiknya penulisan sejarah revolusi Indonesia, yang selama ini lebih banyak melibatkan indonesianis asing, mulai diambil alih oleh peneliti Indonesia sendiri.

Sayangnya, banyak peneliti sini (Indonesia) tak menguasai banyak bahasa, jadi sulit teliti dokumen yang berbahasa Belanda, Jerman, Rusia dan lainnya. Apalagi, dana riset minim,” keluhnya.  Sumber : Tempo
Read more...

Makam Delapan Pahlawan Syuhada

0 comments
MERATAPMU | Makam syuhada ini terdapat disebelah kiri bahu jalan, jika kita berada dari arah timur (Medan) menuju Banda Aceh, tepat disebelah kanan dan juga berhadapan dengan makam syudaha tersebut juga terdapat mushalla dengan nama yang sama. Karena posisi inilah sering kali orang-orang yang melintas dengan kendaraan pribadi singgah sejenak, untuk shalat atau pun menikmati air tebu yang ada.

Areal makam syuhada ini sudah dipugar, layaknya sebuah kamar dengan ukuran kira-kira 4m x 4m. Selain itu juga terdapat tempat mushalla kecil dibelangkanya serta tempat wudhu bagi orang-orang yang ingin menunaikan shalat sunat. Makam ini sudah lama dikenal orang-orang setempat bahkan masyarakat Aceh karena letaknya yang begitu strategis.

Dibagian depan makam ini terdapat juga celengan besar dari besi yang sengaja dibuat oleh warga sebagai tempat sedekah dan amal, hasil dari celengan itu biasa sering dipergunakan untuk membiayai kegiatan-kegiatan makam seperti perawatan, pembersihan dan lain-lainnya sebagainya.

Makam syuhada ini memang banyak menyimpang sejarah saat Belanda menjajah ke tanah Seuramo Mekkah, di depan makam kita bisa menemukan nama-nama para syuhada dan keterangan singkat dalam bentuk ukiran kayu yang diberi lapisan kaca, tulisan tersebut juga tidak luput untuk kami abadikan sebagai bahan dokumentasi.

Dibagian ukiran kayu tersebut tertuliskan dengan “Makam Delapan Pahlawan Syuhada”, berikut nama-namanya: 1. Tgk. Panglima Prang Rajeuk Djurong Bindje 2. Tgk. Muda Len Mamplang 3. Tgk. Njak Bale Ishak Blang Mane 4. Tgk. Meureude Tambue 5. Tgk. Bale Tambue 6. Apa Sjech Lantjok Mamplam 7. Muhammad Sabi Blang Mane 8. Njak Ben Matang Salem Blang Teumuelek

Dibagian bawah nama-nama tersebut tercantum sebuah tulisan singkat yang berisi “Pada awal tahun 1902, memusnahkan sepasukan patroli serdadu marsose Belanda sebanyak 24 orang. Dikala 8 orang pahlawan ini sedang mengumpulkan senjata serdadu yang korban, tiba-tiba di serang oleh sepasukan Belanda lainnya yang datang memberi bantuan dari jurusan Jeunieb, kedelapan pahlawan tersebut syahid semuanya sebagai bunga bangsa di tempat.”
Dari berbagai sumber : Antara-Aceh
Read more...
 
News PERGAULAN. COM © 2011 Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Counter Powered by  Counter4me.com
seo keywords